Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Semesta Berbagi Bersama Blogger Hibah Sejuta Buku di Pulau Tegal

Oleh: Ria Astuti

Anak-anak Pulau Tegal, Lampung.

Manusia unik sekali.
Yang memiliki kebutuhan berbagi, memenuhi kebutuhannya dengan memberi. Yang memiliki kebutuhan kasih sayang, memenuhi kebutuhannya dengan mencintai. Yang memiliki kebutuhan aktualisasi, memenuhi kebutuhannya dengan menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Manusia membutuhkan manusia lainnya, karenanya manusia menjadi manusia.

Tuhan itu kreatif sekali.
Mendesain manusia dengan keunikanNya tersendiri. Dia juga menciptakan hati yang bentuknya kecil, namun sungguh mampu menampung dunia seluas-luasnya. Binatang, tetumbuhan, pepohonan, siang-malam, gelap-terang, hujan-kemarau, langit, bintang, bulan, matahari, lautan, pegunungan dan segala penciptanNya tiada yang luput dari kesempurnaan. Maha karya seagung-agungNya.

_____________________

Kedua hal besar di atas sangat Saya rasakan nikmatNya pada perjalanan ke Pulau Tegal Lampung 14 – 16 Juni 2013 yang lalu. Pada awalnya Saya membaca posting mba Anazkia di grup FB KAMPRET yang ingin mengadakan perjalanan ke Pulau Tegal untuk membagikan buku kepada anak-anak di sana. Tanpa pikir panjang Saya langsung memberikan komentar mau ikutan, syarat yang diajukan mba Anaz cukup mudah, tidak boleh mabok katanya. Yah gancil, lah wong dalam agama saya juga dilarang mabok-mabokan, ahaha tentu saja maksud mba anaz mabok laut, karena akan naik kapal laut dan meyeberang menggunakan kapal juga, hehee saya menyanggupinya.

Setelah melalui galau cukup akut, karena cuaca terus hujan dan mendung berpayung, syukur Alhamdulillah pada hari Jumat yang sungguh berkah itu, cuaca cerah ceria langit biru berawan. Maka pada Jumat malam sekitar pukul sepuluh malam kamipun berangkat dari terminal Kampung Rambutan menuju Merak, kami berempat termasuk aku, mba Anaz, Kak Cipto dan Kak Rendi mewakili BHSB (Blogger Hibah Sejuta Buku). Setibanya di Merak kami bertemu “alien-alien kreatif” dari Serang dan Cilegon. Hehee Saya menyebut mereka begitu karena mereka memang datang dari planet lain, #eehhh minta dikepruk😀. Mereka adalah Kak Aip, Kak Magda, Kak Lisda, Kak Arum, Kak Ijal berkumis, Kak Ari ari dan Kak Lala yang juga kompasianer. Mereka tergabung dalam Rumah Buku Cilegon, Perpus Semesta dan Adam & Sun Foundation. Mereka telah menyiapkan peralatan perang yang cukup lengkap, contohnya pernak-pernik yang akan digunakan untuk story telling hasil kreatifitas Kak Lisda.

Setelah menempuh perjalanan menggunakan bus dari Pelabuhan Bakauheuni selama kurang lebih 4 jam, kami dijemput Kak Pa’eng di UNILA dan melanjutkan perjalanan menggunakan angkot kecil untuk kemudian naik kapal menyeberang menuju pulau Tegal. Kak Pa’eng adalah Pak Gurunya anak-anak di Pulau Tegal, beliau banyak bercerita tentang masyarakat pulau Tegal, terlebih anak-anak didiknya yang sungguh luar biasa di sana. Menurut kak Pa’eng, anak-anak itu makanannya setiap hari ikan, cukup bergizi untuk nutrisi otak mereka, namun sayangnya sedikit sekali ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan karena di Pulau memang tidak ada sekolah. Kalaupun mereka ingin sekolah, mereka harus menyeberang selama kurang lebih 15 menit kemudian masih harus menempuh perjalanan lebih dari 5 Km dengan berjalan kaki untuk mencapai sekolah terdekat. Mereka haus ilmu, jadi informasi apapun yang mereka dapatkan, terlebih hal-hal baru, mereka akan lebih mudah menyimpan dan mengingat.

Pada Sabtu siang kami akhirnya tiba di Pulau Tegal, selain pemandangan laut yang sangat memanjakan indera kami, ada rasa bahagia tak terkira di hati kami karena ternyata kedatangan kami telah dinantikan anak-anak di pulau Tegal. Mereka berlari di bibir pantai melambai-lambaikan tangannya ke arah kapal, ahhh Tuhan Saya terharu, nikmatMu begitu utuh…

Tanpa banyak basa-basi, Kak Aip, Kak Anaz dan semuanya langsung action. Diawali dengan perkenalan kami satu persatu kepada anak-anak yang penuh canda tawa, padahal di dalam kelas udara sungguh panas bukan buatan, namun semua seakan tidak mempedulikan keringat yang mengalir, yang terasa dalam ruangan tersebut hanyalah gairah semangat anak-anak ingin belajar dan kakak-kakak yang tulus berbagi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kakak-kakak dari Semesta sudah menyiapkan berbagai games edukatif untuk anak-anak. Diantaranya Dream Trigger, anak-anak diajak menutup matanya untuk membayangkan mimpi mereka sehebat-hebatnya, setinggi-tingginya, kemudian menuliskannya di sebuah kertas apa mimpi mereka, alasannya dan cara mewujudkannya, mereka juga menempel mimpi mereka di pundak kiri pada sebuah kertas berbentuk bintang, kemudian satu persatu mereka membacakan mimpi-mimpi itu di depan kelas. Cukup banyak yang berkeinginan menjadi GURU, luar biasa, mereka saja masih kecil sudah memikirkan mau mengajarkan sesuatu pada generasi mereka. Yang lucu ada anak yang ingin menjadi Ranger Hijau, ahaha pasti itu karena makan ikan dehhh, cerdassshh!!😀

Selain itu, kakak-kakak Semesta juga mengadakan story telling yang dibawakan oleh Kak Magda, mengajarkan anak-anak membuat boneka puppet dari kaus kaki untuk digunakan pada games puppet show, menonton film-film kartun edukatif dan mengadakan kuis tentang apa yang disaksikan dalam film kartun tersebut, walk of fame di mana anak-anak diminta berjalan dengan gagah dan penuh percaya diri di antara barisan teman-temannya, dan banyak permainan lain yang cukup edukatif dan menyenangkan bagi anak-anak. Kak Lisda juga mendesain permainan ular tangga raksasa yang bentuknya lebih lebar dari spanduk, dadunya juga sebesar kardus, dan meninggalkannya di sana untuk permainan anak-anak di pulau Tegal.

Tak lupa acara penyerahan buku secara simbolis oleh Mba Anaz kepada salah satu warga di Pulau Tegal. Di Sekolah itu, ahh mungkin lebih cocok disebut kelas, karena memang hanya satu ruangan. Di ruangan kelas itu hanya terdapat kursi-kursi dan meja-meja sederhana dilengkapi dengan papan tulis dan rak buku yang cukup rentan jika diisi buku terlalu banyak. Hingga Kak Pa’eng menyanggah raknya dengan kayu untuk menahan buku-buku yang akan diletakkan mba Anaz di rak tersebut. Kami membawa buku yang cukup banyak, mereka tampaknya akan membutuhkan rak buku yang lebih besar.

Gedung Sekolah

Dua hari yang begitu mengesankan, khususnya bagi Saya pribadi. Bertemu dengan mereka yang memiliki energi begitu besarnya untuk berbagi cinta dan ilmu, bercengkerama dengan mereka anak-anak lucu yang lugunya natural sekali dengan segala keingintahuannya akan dunia, hingga menikmati alam yang sungguh tidak terungkapkan dengan kata-kata akan keindahanNya. Tuhan baik sekali menitipkan episode kehidupan Saya pada Pulau Tegal yang unik ini. Syukur Alhamdulillah…

Terima kasih untuk Mba Anaz terkhusus, karena telah memberi Saya ruang kesempatan untuk menjadi bagian dari kalian. Juga terima kasih setulusnya untuk semua kakak-kakak yang luar biasa, Kak Cipto, Kak Aip, Kak Lala, Kak Magda, Kak Lisda, Kak Arum, Kak Ijal, Kak Ari, Kak Rendi dan Kak Pa’eng yang sangat inspiratif. Suksessss selalu untuk apapun kebaikan yang kita semua usahakan. Daaaannn Semoga silaturahim kita selamanya tersambung dalam kebaikan🙂

Doa Saya untuk adik-adik pulau Tegal, semoga kalian menjadi matahari yang menyinari sebenarnya cahaya. Menjadi apapun kalian kelak, semoga tetap haus ilmu, haus berbagi, tetap dahaga dalam kebaikan selamanya.

Aamiin ^_^

Salam inspirasi edukasi🙂

*) Kompasiana Link

*) Dokumentasi oleh Lisda Soraya Link

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 21, 2013 by in Kegiatan Semesta, Komunitas, Liputan and tagged , , , , , , .

Navigation

%d bloggers like this: