Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Kepada Cerpen Langit Makin Mendung

Siang yang ceria, matahari pamer dengan sedikit angkuh memutari bumi yang kian hari kian miring. Minggu, 27/05/2012 pukul 11 saya berangkat dari rumah, dengan motor kesayangan. 10 menit sampailah dilokasi tujuan. Masih belum ramai orang disana. Saya terlalu dini datang, acaranya mulai jam setengah tiga. 190 menit habis sudah terlewati. Ow, waktunya hajatan dimulai, tapi tamunya belum lengkap hadir. Tak apalah menanti sebentar lagi.

15:15, tamu telah berkumpul hajatan dimulai juga akhirnya. Mas Adzwar  yang kali ini menjadi moderator membagikan 16 lembar copy Langit Makin Mendung ke tamu undangan dan karena kurang harus ada yang rela berbagi cerpen tersebut dengan temannya. Dalam lembar kertas tersebut terdapat tulisan READING GROUP : Membaca dan Diskusi. Setiap hari Minggu. Sanggar Semesta (Anyer).

Ya, hari itu di Sanggar Semesta diadakan kegiatan Reading Group dan diskusi cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Pandjikusmin. Karya yang sempat menggegerkan dari seorang penulis yang sampai sekarang entah siapa sebenarnya. Cerpen yang pertama kali dimuat oleh majalah Sastra (Th. VI. No. 8, Edisi Agustus 1968).

Pembaca pertama memulai konsernya, didendangkanlah kisah dibundelan kertas. Masih teringat jelas cerita yang diverbalkan oleh Agus Babay si pembaca pertama.

Dalam cerita berlatar Sorga Loka ada percakapan antara Muhammad SAW dengan tuhan yang meminta untuk diizinkan mengadakan riset atas permasalahan akhir-akhir ini yaitu semakain sedikitnya umat manusia yang  masuk sorga. Muhammad mengajukan petisi dan memohon dipenuhi permintaannya untuk turun ke bumi, Tuhan mengabulkannya. Dibawalah Jibril bersamanya sebagai pengawal sekaligus pemandu dalam risetnya ke bumi. Tiba-tiba, ups.. rudal sputnik menabrak buraq yang ditunggangi mereka, walau sebelumnya JIbril telah mengacungkan pedang apinya untuk menghentikan sputnik yang dinaiki oleh 3 orang Rusia, dan  acungan pedang Jibril  berakhir sia-sia. Jatuh deh Muhammad dan Jibril ke atas awan yang empuk bagai kapas. Mereka tepat jatuh di atas kota yang awalnya dianggap oleh Muhammad sebagai neraka, Jakarta ternyata kota yang berada dibawah mereka, berisi seratus juta rakyat yang 90%-nya adalah Islam (KTP). Niatnya Muhammad riset ke Madinah tapi Jibril menawarkan untuk mengunjungi kota durhaka itu. Maka jadilah dua elang sebagai bentuk samaran mereka.

Helaan nafas panjang dari Agus menandakan bagiannya habis dan Rizky bersiap ambil ancang-ancang melanjutkan.

Tempat yang mereka kunjungi ternyata tempat mambu Nasakom lahir yang Muhammad tahu pas berdebat sama Tuhan. Muhammad tahu  di Jakarta ternyata tempat baik untuk segala hal buruk. Muhammad juga melihat ternyata presiden Indonesia sedang mengalami sakit parah hampir mati meninggalkan warisan Nasakom. Kaisar Cina mengirimkan tabib terbaik untuk mengobati Soekarno, maka akhirnya tidak jadilah Soekarno mati,  cuma pincang sebelah kakinya. Kata orang dia banyak pakai injeksi H-3 (obat pemulih tenaga kuda).

Disini Rizky bercerita dengan mimik dan intonasi yang khas,  dalam cerita pun terdapat kisah bagaimana seorang Togog menteri luar negeri Indonesia mendapatkan sebuah dokumen Gilchrist yang katanya akan membuat kalang kabut kaum Nekolim.

Selanjutnya Ana, suaranya merdu—suara wanita umumnya sih. Ana pun sempat membacakan kutipan puisi karya WS Rendra yang terdapat dalam cerpen ini, begini bunyinya.

Pelacur-pelacur kota Jakarta

Naikkan tarifmu dua kali

dan mereka akan kelabakan

mogoklah satu bulan

dan mereka akan puyeng

lalu mereka akan berzina

dengan istri saudaranya

 

Dalam bagian yang dibacakan Ana juga ada kisah dimana Soekarno memerintahkan Togog untuk memanggil duta Cina untuk menghadap Soekarno di pagi buta. Ternyata Soekarno merasa tertipu oleh sahabat cinanya, Soekarno ingin segera dikirimi bom atom dari sahabatnya itu.

Maka cerpen ini dihatamkan Tia,  pembaca keempat yang ternyata dapet bagian paling banyak. Dalam cerita bagian terakhir yang dibacakan, Langit Makin Mendung membeberkan problematika sosial dan politik yang terjadi pada orde lama masa pemerintahan Soekarno dimana kebohongan dari pemerintah ditelan mentah-mentah oleh rakyat seperti yang ditulis pada cerpen ketika Soekarno mengaku jarang makan nasi mengaku sama seperti rakyatnya yang jarang makan nasi, ya memang sama jarang makan nasi tapi kata para pelayan istana soekarno setiap pagi  sarapan roti panggang dicampur segala tetek bengek yang asalnya dari Negeri antah berantah.

Rakyat Indonesia memang orang yang berlapang dada bahkan untuk hal yang tidak baik seperti yang saya kutip dari kalimat terakhir cerpen Langit Makin Mendung, “Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang. Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi”.

Sekarang bagian dimana para tamu yang hadir untuk menyatakan ataupun menanyakan apa-apa yang bergejolak dalam kepala mereka. Maka moderator, mas Adzwari memulai dengan sebuah kalimat ajaib dari Wiji Thukul “Barang siapa yang memenjarakan pertanyaannya maka ia akan menjadi korban keputusan-keputusan”. Kemudian mempersilahkan kepada para peserta untuk mengungkapkan apa apa yang ada dalam pikiran mereka.

Meledaklah acungan tangan dari para peserta.  Maka acungan tangan pertama Irvanudin dipersilahkan untuk mengungkapkan temuannya, “ini adalah cerpen yang bagus menurut saya, tadi malam saya membaca sebuah resensi cerpen ini di internet. Ketika cerpen ini dimuat di majalah Sastra banyak sekali yang kontra dengan isinya terutama para pemuka agama, sampai-sampai pimpinan redaksi majalah Sastra yaitu H.B. Jassin menginap setahun di penjara. Cerita ini dikatakan mempersonifikasikan Tuhan. Ya, kalau menurut saya mungkin dalam cerpen ini tidak ada yang salah, jika tuhan tidak boleh dipersonifikasikan kenapa di Al-Qur’an ada sebutan Yang Maha Penyayang, Yang MahaEsa, dan sebagainya. Dalam sastra semua orang berhak menuangkan imajinasinya.”

Selesai Irvan meluapkan pernyataannya. Acungan tangan muncul lagi, moderator mempersilahkan kepada saya untuk berbicara. Saya tidak sependapat dengan apa yang dikatakan Irvan, “Van, kalo menurut saya yang namanya Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan Yang Maha Esa atau sebagainya itu ya bukan personifikasi, itu kan Asma’ul Husna, tentu beda dengan personifikasi, personifikasi mengandaikan benda mati seolah-olah hidup, bukankah begitu?”

Tanpa perlu komando dari moderator,  Irvan langsung menjawab dengan nada ramah tentunya, “ya saya tahu itu Asma’ul Husna, tapi pengetahuan tentang personifikasi Anda dan saya yang masih anak SMA dengan pemaknaan personifikasi oleh seorang Ki Pandjikusmin udah pasti beda, pengetahuan kita kan tentang personifikasi cuma mengandaikan benda mati seolah-olah hidup, mungkin personifikasi itu bisa lebih luas lagi”.

Setelah berbelit adu argumen antara saya dan Irvan, saya kira fokus diskusi masalah personifikasi itu sudah cukup karena kami jelas beda pendapat. Ya sudahlah. Maka muncul pertanyaan baru, saya bertanya kepada forum mengenai Nasakom, karena dalam cerpen ini sering sekali terdengar dan terbaca kata “Nasakom” dan di sekolah pun saya sering mendengarnya dari guru mata pelajaran sejarah.

Teh Arum segera menjawab pertanyaan saya tadi setelah dipersilahkan oleh moderator, “Nasakom adalah singkatan dari Nasionalis, Agama, dan Komunis. Nasakom ini lahir dari pikiran Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno.”

“Terus kalo isi atau ajarannya itu seperti apa?” Rasa penasaran memaksa saya untuk bertanya lagi. Tapi bukannya menjawab pertanyaan saya, teh Arum malah meminta Mas Adzwar untuk menjawab pertanyaan saya.

“Nasakom adalah konsep dasar Pancasila yang lahir dari pemikiran Soekarno, Nasakom juga adalah penjelmaan dari Pancasila serta azas Bhineka Tunggal Ika yang nyatanya telah dirumuskan sejak 1926 sebagai bentuk persatuan melawan penjajahan. Sederhananya Nasakom kalau dalam kehidupan sehari-hari diimplementasikan dalam bentuk gotong-royong.” Para peserta memperhatikan penjelasan Mas Adzwar.

Dalam fikiran saya masih ada Tanya tentang Nasakom, kalau Nasakom adalah konsep dasar dari Pancasila dan juga sebuah teori yang diimplementasikan menjadi kegiatan penuh kerjasama melawan penjajahan dan rasa persaudaraan yang di Indonesia disebut gotong royong, kok dalam cerpen Langit Makin Mendung disebutkan bahwa mambu Nasakomlah yang meracuni orang-orang Indonesia yang ujung-ujungnya bikin sepi sorga dimasuki umat manusia yang mati. Ada apa sebenarnya? Entahlah, mungkin karena memang hobi manusia itu menyalahgunakan apa-apa yang seharusnya digunakan untuk hal yang benar.

Pertanyaan selanjutnya dari gadis mungil bernama Septi Solehah, “mas, mas, saya kurang faham sama alur ceritanya. Dibagian pertama diceritakan  Muhammad yang ingin turun ke bumi, tapi tiba-tiba di lembar  berikutnya ada cerita si Togog sama Soekarno?” Moderator mempersilahkan kepada peserta Reading Group untuk menjawabnya. Anisa angkat bicara menjelaskan, Septi mengangguk-angguk sambil mendengarkan.

Matahari pun tambah jatuh ke barat, tanda siang makin hilang. Karena waktu sudah teramat sore dan beberapa ada yang belum  sholat ashar maka mas Adzwar meringkas dan menjelaskan singkat yang belum sempat ditanyakan dari cerpen yang hari itu didiskusikan.

Penjelasan tentang menteri luar negeri yang nama aslinya Soebandrio tapi dalam  cerpen dipanggil Togog. Dikisahkan bahwa Togog adalah salah satu dari tiga cucu Sanghyang Wenang yaitu: Batara Antaga (Togog), Batara Ismaya (Semar), Batara Manikmaya (Batara Guru). Jika Semar  mendapat perintah untuk mengajari para kesatria berwatak baik, namun sialnya Togog dapat jatah mengajari ksatria berwatak buruk—raksasa. Bisa dikatakan itu adalah sebuah satire atau sindiran untuk  Soekarno.

Dijelaskan juga  “…Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!” kalau bom atom merujuk pada arti sesungguhnya, maka kata itu jelas tidak tepat karena nyatanya pada masa pemerintahan Soekarno Indonesia belum punya bom atom, pun sekarang.

Dalam kegiatan Reading Group hari itu Saling Tanya jawab yang terkadang tidak seharusnya hadir, namun terjadi. Topik yang lahir seperti santapan orang-orang usia berkepala tiga, nyatanya yang hadir diacara itu lebih banyak  remaja yang masih duduk di bangku SLTA.

“17:05” nilai di jam tangan sudah berganti, matahari juga siap siap tutup toko, karena hari sudah sore. Dua jam ternyata waktu yang sesak untuk menghabiskan diskusi hari itu, yang katanya menghadirkan kegemparan dan kontroversi pada masanya. Cukuplah sampai disini cerita yang mampu saya suguhkan dari semesta.

(Ahmad Nahudin)

One comment on “Kepada Cerpen Langit Makin Mendung

  1. heruls
    August 21, 2012

    Waaa, asyik komunitas dan agenda rutin ini.
    Cerpen adalah gapura sederhana untuk berbagai khazanah literer lainnya. Awal yang sederhana, tapi dengan tujuan yg jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 10, 2012 by in Reading Group and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: