Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Dokumentasi Kebudayaan Nusantara (III): Keroncong Tugu

Victor Ganap, meyakini bahwa Keroncong Tugu merupakan musik asli Indonesia, keyakinan ini ditulis dalam karyannya yang berjudul Krontjong Toegoe (2011), sebuah buku yang mencoba menyelami sejarah musik keroncong, khususnya Keroncong Tugu. Sejarah musik keroncong sendiri bisa dilacak dalam musik tradisional maupun lagu-tarian Portugis. Misalnya Fado de Coimbra, sebuah musik tradisional dari Coimbra, kota terbesar setelah Lisbon, ibu kota Portugal. Ada juga Camélias, yang merupakan tarian rakyat. Selain sudah tentu Lagu Moresco dan Kr. (Keroncong) Moresco, sebagai bukti kuat turunan sejarah kesenian bangsa Moor. Lagu Kr. Moresco pun terkenal di kalangan para pemusik keroncong masa kini, dan populer sebagai bentuk keroncong asli. Adalah maestro Kusbini yang pertama-kali memperkenalkan lagu Moresco ini ke khalayak. Kesimpulan yang disampaikan Victor Ganap, musik keroncong Indonesia memiliki unsur musik Portugis abad ke-16 yang dipengaruhi budaya Islami bangsa Moor dari Afrika Utara yang masuk dan berkembang di Portugal. Namun ditekankannya bahwa Keroncong Tugu merupakan musik asli Indonesia, karena baik di Portugis ataupun Afrika Utara, tidak dikenal keroncong yang berbunyi sebagaimana Keroncong Tugu1. Sebuah pernyataan yang (seharusnya) membuat pembaca senantiasa haus untuk membandingkan.

Kampung Tugu dan Sejarah Batavia

Awal dari keberadaan Komunitas Tugu tidak terlepas dari sejarah masyarakat keturunan Portugis di Indonesia. Sejarah mencatat Malaka direbut oleh Belanda pada 14 Januari 1641 dari tangan Portugis, yang telah menguasainya selama 130 tahun. Seperti lazimnya daerah yang ditaklukan, maka Belanda membawa orang-orang Portugis beserta keluarganya ke Batavia sebagai tawanan perang. Para tawanan perang tersebut selain orang-orang Portugisnya sendiri juga para Mestiezen atau yang berarti campuran, dimana sebagian dari mereka adalah keturunan campuran antara orang Portugis dengan penduduk lokal dengan menganut agama Katolik. Tempat dimana keturunan portugis tersebut ditempatkan adalah sebuah kampung yang dikenal dengan Kampung Tugu.

Dalam bukunya, Ganap menceritakan bahwa Komunitas Tugulah yang menjadi asal muasal berkembangnya Keroncong Tugu. Kampung Tugu sendiri terletak di kawasan pantai utara Jakarta, di sebelah timur wilayah Tanjung Priok yang sejak tahun 1883 ditetapkan sebagai bandar pelabuhan kota Jakarta menggantikan pelabuhan Sunda Kelapa atau Jayakarta. Kampung Tugu merupakan wilayah paling tua di Jakarta, yang diperkirakan mulai dihuni sejak ribuan tahun yang lalu (hal. 23). Kondisi Kampung Tugu digambarkan sebagai berikut “Kami tinggal dalam satoe kampong jang ketjil jang terseboet Toegoe, dan ada dalam bilangan district Beccasie afdeeling Meester Cornelis. Kampong Toegoe itu ada dekat pinggir laoet dan hawa oedara disana ada panas. Aer boewat minoem itoe soesah sebab seomoer-omoer banjak jang aernja asin2.

(Salah satu lukisan karya F. Dancx (1703), yang mengisahkan keluarga keturunan Portugis di Kampung Tugu, lukisan ini dilatarbelakangi oleh Gereja Tugu.)

Keroncong Tugu dan Sejarah Musik Indonesia

Saat ini Keroncong Tugu memang tidak dikenal sebagaimana popularitasnya pada tahun 50an lewat Keroncong Moresco. Namun komunitas keroncong tugu masih terus konsisten untuk mempertahankan musik tradisi tersebut. Diantaranya adalah sebuah kelompok keroncong yang diketuai oleh Quido Quicko, yang senantiasa menghangatkan suasana malam di kampung Tugu dengan alunan musik yang terdiri dari gitar, bas, biola, dan rebana. Oleh karena konsistensi yang dijaga oleh komunitasnya, Kampung Tugu dikenal sebagai wilayah tertua yang memiliki peninggalan historis-musikal kontemporer. Menurut Andre Juan Michiels, sebagai pemimpin Komunitas Toegoe, Kampung Tugu selalu menjadi objek bagi para peneliti kebudayaan dan musik khususnya. Namun berbagai pencatatan menarik tentang Keroncong Tugu sebagaimana yang dilakukan oleh Victor Ganap belumlah mampu memunculkan pencerahan dalam temaramnya sejarah (dan selera) musik di Indonesia. Minimnya perhatian masyarakat terhadap musik tradisi bisa jadi salah satu penyebabnya, dan rendahnya selera para kurator dalam industri musik sebagai sebab lainnya. Indonesia kaya akan tradisi musik, namun untuk membangkitkannya harus terus dilakukan penggalian secara seksama untuk kehidupan bermusik yang lebih baik.

(Aliyuna Pratisti)

Sumber:

1 Ganap, Victor, 2011, Kerontjong Toegoe, Badan Penelitian ISI, Yogyakarta

2 Setiawan, Erie, Menguak Sejarah Keroncong dari Kampung Tugu,Jawa Pos, Oktober 2011

Keterangan:

Berbagai seluk beluk Keroncong Tugu dapat dibaca dan dinikmati pada situs http://www.krontjongtoegoe.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 4, 2012 by in Artikel, Ulasan and tagged , , .
%d bloggers like this: