Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Anjing dan Revolusi: Representasi Hasrat Masyarakat

Aku terbangun pagi hari dengan berita di televisi,
ratusan anjing bergerombol di alun-alun ibu kota.

Namun, larik puisi di atas hanyalah sebaris metafora kering karena dalam sebuah revolusi, terdapat dua hal yang (selalu) luput dari liputan televisi. Pertama, revolusi itu sendiri. Kedua, sosok anjing menyalak di garis depan. Anjing yang dimaksud memiliki arti harfiah, Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai binatang menyusui yang biasa dipelihara untuk menjaga rumah, berburu, dan fungsi domestik lainnya. Domestifikasi tersebut, menurut Carl Jung menggambarkan agresivitas manusia dalam memproduksi “budak”, sebuah kebutuhan akan kuasa yang disalurkan melalui tali pengekang. Namun diluar hubungan emosional yang pelik antara anjing dan manusia, anjing tetaplah anjing, dan tentu saja tetap merupakan binatang yang tergolong kedalam Canis familiaris. Sisi kebinatangan inilah yang menyelamatkan anjing dari represi psikologis (tuannya). Binatang, dalam hal ini anjing, tidak memberikan penilaian. Insting dan tindakan binatang adalah sebuah kesatuan, karena apa yang “dipilih” oleh binatang ditentukan oleh tarikan nalurinya, tidak ditentukan oleh sistem penilaian tentang apa yang tepat dan apa yang tidak tepat, atau apa yang baik atau tidak1. Insting – atau dikenal sebagai hasrat (Id) dalam konteks psikologis manusia – senantiasa murni dan menjadi penggerak dasar tindakan alamiah bagi anjing [dan juga manusia], yang dalam beberapa kasus tertentu insting tersebut bersebrangan dengan otoritas si pemegang tali.

Anjing-anjing Kerusuhan2

Sebuah fakta menarik muncul dalam demonstrasi di Yunani pada tahun 2008. Demonstrasi yang dilatarbelakangi oleh krisis ekonomi tersebut memicu bentrokan antara massa dan pihak otoritas di berbagai tempat di Athena. Namun, pelaku demonstrasi tersebut tidak hanya warga Athena dari golongan Homo Sapiens (baca: manusia) saja, tetapi juga dari dari golongan lain, yaitu anjing. Para demonstran memanggilnya Kanellos, terlepas bahwa kemungkinan anjing tersebut adalah anjing yang berbeda di setiap kemunculannya.

Kanellos, bukanlah anjing yang mengikuti tuannya ke ajang demonstrasi. Ia merupakan salah satu dari anjing liar yang secara sengaja dipelihara oleh kota Athena untuk menarik turis (ditandai dengan kalung biru di lehernya). Setelah kemunculan Kanellos tahun 2008, terdapat dua penamaan lain bagi anjing kerusuhan yang tidak pernah absen sekalipun dalam aksi demonstrasi Athena yang merebak kembali pada tahun 2011 yaitu Thodoris dan Loukanikos – keduanya diperkirakan sebagai inkarnasi dari Kanellos yang telah pergi ke surga anjing pada tahun 2009. Dalam keliarannya yang tanpa Tuan, anjing-anjing kerusuhan tersebut tidak pernah kebingungan terhadap pihak mana yang ia bela. Pada sebuah demonstrasi, ketika pihak aparat yang diturunkan untuk membubarkan massa mengenakan pakaian sipil, anjing-anjing tersebut tetap menyalak kencang kearah mereka,  fakta bahwa anjing dapat mengendus ketidakberesan dibawah permukaan kulit.

Anjing dan Representasi Murni Hasrat Masyarakat

Simpulan ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Freud dalam penelitiannya seringkali menggunakan anjing, baik untuk kepentingan pasien atau kepentingannya sendiri, sehingga tidaklah aneh ketika asumsi dasar psikologis manusia – Id, Ego, dan Superego – ia kaitkan dengan tingkah perilaku kebinatangan seekor anjing. Menurutnya, anjing dan anak kecil memiliki kesamaan, yaitu bertindak menurut kepada hasrat alamiahnya, atau dikenal dengan Id3. Hasrat ini merupakan impuls murni manusia sebelum dikekang oleh ego, sang pengamat realitas dan superego, sang pengawas moralitas. Logika ini kemudian digunakan dalam berbagai tulisan psikologi sosial untuk menggambarkan kedudukan anjing yang muncul pada kerusuhan dalam sebuah revolusi sosial. Pemihakkan yang dilakukan anjing bukanlah didasari oleh penilaian baik dan buruk sistem nilai, namun merupakan pemihakkan terhadap hasrat murni masyarakat yang harus berlawanan dengan ego dan superego yang dilakoni oleh otoritas pemerintah. Hasrat murni inilah yang diendus oleh insting kebinatangannya dan mendorongnya untuk menyalak di garis depan.

 

 

 

 

 

 

 

(Aliyuna Pratisti)

Sumber:

  1. Catatan Sutan Takdir Alisyahbana mengenai penelusuran Filsafat Nilai (Cetakan ulang tahun 1979)
  2. Perbincangan dengan seorang kawan, Radito Wicaksono, seorang pecinta anjing dan kerusuhan
  3. Dufresne, Todd, 2010, Killing Freud: Kematian Psikoanalisis, Kanisius, Yogyakarta

One comment on “Anjing dan Revolusi: Representasi Hasrat Masyarakat

  1. HeruLS
    May 31, 2012

    Hadeh, berat amit, hihi.
    Tapi aku tetap tidak tertarik memelihara anjing sih #apeu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 28, 2012 by in Artikel and tagged , , .
%d bloggers like this: