Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

DiaLoGue

Oleh: Cheklie Arum P

Konon katanya, Socrates, Plato, dan Aristoteles mengadakan kelas mereka seraya berjalan-jalan di taman-taman Athena. Mereka tidak pernah memenjarakan diri mereka dalam gedung-gedung kuliah yang besar seperti universitas-universitas modern.

Apa yang mereka lakukan?

 Mereka BERTANYA dan DITANYA tentang segala hal, karena tidak ada yang dianggap tak layak dipertanyakan. Sebuah proses ‘Tanya-Jawab’ yang berlangsung secara terbuka dan mesra, yang sesekali diselingi adu argumen. Namun, ketika adu argumen ini melibatkan otoritas – yang waktu itu berupa Senat dalam Kota Polis Athena – maka sesi ‘Tanya-Jawab’ harus diakhiri dengan membungkam salah satunya. Membungkam dalam pengertian selamanya, sebagai hukuman terhadap pola didaktis para Filsuf yang dianggap meracuni pikiran anak muda. Dan Sokrates pada usia tujuh puluh tahun, dipaksa meminum racun untuk mengakhiri kegiatan ‘meracuninya’. Sebuah ironi yang filosofis.

Adapun pola didaktis utama yang dilakukan Para filsuf peripatetik(1) Yunani adalah Dialog yang merupakan metode pembelajaran yang [dianggap] paling memberikan penerangan. Dialog sendiri diartikan sebagai bentuk literasi yang dapat berupa tulisan atau pembicaraan antara dua orang atau lebih(2). Melalui proses inilah pencarian ‘kebenaran’ dilakukan. Yang dalam pandangan para filsuf: Kebenaran adalah pencarian terhadap kebenaran itu sendiri, yang muncul dalam proses konflik ide-ide dan prespektif yang disebut Dialektika.

Eh, apa ada yang bertanya apa itu Dialektika?

Dialektika merupakan komunikasi dua arah, bentuk tindakan berbahasa dan bernalar dengan dialog sebagai cara untuk menyelidiki suatu masalah. Seorang filsuf lain di jaman yang lain­—Hegel kemudian menyempurnakan konsep Dialektika menjadi sebuah ajaran yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terdapat di alam semesta terjadi dari hasil pertentangan antara dua hal yang menimbulkan hal lain. Sebuah proses yang dikenal dengan tesis, anti-tesis dan sintesis(3). Sedangkan Tan Malaka menulis dalam Madilog (1943) “Soal-Jawab yang hangat dan berguna, yang menambah pengetahuan kedua belah pihak inilah dialogue. Semacam inilah yang tergambar di otak manusia, yang dinamai DIALEKTIKA”.

So…?

Bagaimana kalau kita coba memasuki dunia makna melalui proses komunikasi dan eksplorasi yang bersifat terbuka?! Dia, Lo, Gue…

Kita sama-sama berdialog, karena dalam komunikasi yang dialogis, kita melibatkan orang lain sebagai ‘yang berbeda’ namun ‘sama’, melumerkan kekakuan melalui rasa saling menghargai, simpati, dan empati. Dialog yang hangat efeknya sangat intim, seperti hubungan sahabat, atau kekasih.

Dialog bukanlah metode termudah dari komunikasi manusia –karena bagi sebagian orang, dialog hanya membuang waktu – namun merupakan yang paling bermanfaat.  Sebuah jalan untuk merundingkan suatu peradaban baru yang didasarkan pada kontribusi dari peradaban manusia yang telah lalu.

“Go further than you planned. Ask for the moon: you will be surprised how often you get it”

– Paulo Coelho

Sumber:

(1)   Peripatetik merupakan sebutan bagi Filsuf pengikut Plato dan Aristoteles, disebut demikian karena ketika mengajar mereka berjalan atau melenggang (dari kata Yunani Peripatein)

(2)   Magnis-Suseno, Franz, 2005, Pijar-Pijar Filsafat, Kanisius, Yogyakarta

(3)   Hardiman, Budi, 2009, Kritik Ideologi, Kanisius, Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 23, 2012 by in Artikel and tagged , , .
%d bloggers like this: