Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

The Red Balloon, Sebuah Tragedi Sistem Kepemilikan

The Red Balloon (1956), film pendek berdurasi 34 menit garapan sutradara Perancis, Albert Lamorisse, memiliki originalitas tingkat tinggi dalam berbagai segi, terkhusus dalam screenplay dan permainan warna. Dengan memaksimalkan setting Kota Paris paska perang dunia kedua, terasa atmosfer euforia kota yang baru bangkit dari luka-luka perang. Paris, dalam film ini adalah trotoar penuh toko kue dimana seorang anak dapat berkeliaran seorang diri tanpa rasa takut sedikitpun. Film dibuka dengan adegan seorang anak – Pascal, merupakan anak Lamorisse sendiri – yang menemukan balon berwarna merah terikat pada sebuah tiang lampu. Balon ini, oleh Lamorisse, diberikan warna merah menyala yang memikat, sangat memikat hingga bibir Marylin Monroe dibuat kelabu karenanya. Pascal, dengan kelincahan anak-anaknya, menaiki tiang lampu, mengambil balon tanpa kesulitan, dan meluncur ke bawah dengan suka cita. Layaknya orang kaya baru dengan mobil mewahnya, maka Pascal berlarian sepanjang jalanan Paris memamerkan balonnya.

Balon, Kepatuhan dan Sistem Kepemilikan

Jika Anda gampang tersentuh dengan bentuk ikatan emosi antar manusia, maka kiranya Andapun akan tersentuh melihat persahabatan antara seorang anak kecil dengan balonnya. Dunianya menjadi antah berantah, sebuah Neverland yang tidak bisa dimasuki orang dewasa. Selalu ada sukacita khas anak-anak yang sukar dipahami oleh orang dewasa yang cenderung akan menjadi facist setelah memasuki usia puber. Tapi itupun berlaku sebaliknya. Dalam film ini, sudut pandang anak-anaklah yang dimunculkan ke permukaan. Larangan membawa balon ada dimana mana, di bis, di sekolah, di toko kue, bahkan di gereja. Sehingga terlihat dengan jelas di mata seorang anak, bahwa satu satunya kelebihan orang dewasa adalah ‘aturan’.

Namun, film ini tidak menggelitik di bagian sana. Orang dewasa dengan peraturan adalah hal yang sudah tidak asing, bahkan manusia akan kelimpungan apabila tidak ada aturan. Aturan, dalam bentuk apapun adalah candu dengan selera paling rendah. Namun sekali lagi, film itu tidak menggelitik di bagian sana. Pada sebuah adegan, kita dibuat terkejut bahwa ternyata balon merah memikat tersebut memiliki keinginannya sendiri layaknya manusia, Ia ingin bersahabat dengan Pascal. Ketika diterbangkan keluar rumah – karena ternyata ada larangan membawa balon ke dalam rumah – balon itu terbang kembali ke jendela dimana Pascal telah menunggu. Namun tanpa disangka-sangka, meluncurlah kalimat yang mengubah seluruh bentuk tulus persahabatan ke dalam ikatan ketat sistem kepemilikkan. “You must obey me, and be good”.

Pada titik itulah film ini berubah, dari sekedar petualang kanak-kanak, menjadi sebuah potret bobrok sosial masyarakat. Pascal, dengan gaya meniru orang tuanya, mengatakan sesuatu yang khas orang tua – atau lembaga lain yang sejenis – “You must obey me”. Patuh, adalah lawan konsep dari ketulusan. Juga kata yang menggambarkan domestifikasi hewan oleh majikannya. Patuh adalah bertindak tanpa berpikir. Patuh adalah konsep yang dibentuk pada masa Spartan untuk mengkooptasi relung pikiran manusia agar tidak berfungsi sebagai alat pikir. Gambaran hubungan Pascal dan balonnya adalah inti dari sisi realis manusia, otoritas yang dilegitimasi sebagai sistem kepemilikan. Sebuah sistem yang mendasari interaksi manusia, dimanapun, dan tragisnya, pada usia berapapun.

Sistem kepemilikan, secara kondisonal memunculkan sekat kepemilikan. Karena harus diakui, tidak semua anak memiliki balon. Sekat ini begitu terasa pada setengah bagian akhir dari film. Pascal harus susah payah menjaga balonnya dari incaran anak-anak lain. Adegan ini seharusnya dijadikan feature kemenangan kaum proletar atas borjuis, karena pada akhir kejar mengejar tersebut , balon berhasil diletuskan. Balon, sebagaimana monarki Perancis, tidak dapat dibagi-bagi, oleh karena itu harus dihancurkan. Perbedaan Louise VI dengan Pascal adalah, Pascal tidak kehilangan kepalanya, hanya balonnya.

Pesimisme Keluguan

Cerita film berhenti ketika balon merah tersebut meletus secara perlahan, menggambarkan kematian yang enggan dari sistem kepemilikan kapitalisme. Kalau saja Film ini digarap oleh Pier Paolo Pasolini yang terkenal sosialis militan, maka kemungkinan cerita berlanjut pada pembangunan sintesis masyarakat tanpa kelas. Namun The Red Balloon bukan film seperti itu, dan Lamorisse mengingatkan kita pada adegan akhir. Keceriaan anak-anak kembali bersama ratusan balon berwarna-warni yang terbang di angkasa. Balon-balon yang ikut berkabung atas meletusnya balon merah, lalu bersama sama mengangkat Pascal ke udara. Sebuah akhir transendental yang kanak-kanak. Ya, The Red Ballon adalah film anak-anak. Tapi cobalah menonton dan menikmatinya dengan mata anak-anak, sulit setengah mati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Aliyuna Pratisti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 13, 2012 by in Artikel, Ulasan and tagged , , , .
%d bloggers like this: