Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Musim Gugur Kembali di Connecticut: Ideologi dan Elegi dalam Satu Bingkai

Musim Gugur Kembali di Connecticut adalah salah satu cerita pendek karya Umar Kayam yang terkumpul dalam buku ‘Seribu Kunang-kunang di Manhattan’. Bagi yang sudah membacanya, kiranya akan sependapat jika dikatakan bahwa cerita pendek ini adalah sebuah cerita yang matang – begitupun cerpen Umar Kayam lainnya – dalam berbagai segi percerpen-an. Singkat, padat, dan tidak menyisakan celah sedikitpun bagi pembacanya untuk menebak alur cerita, seakan pasrah, pembaca dibawa mengalir dalam gelombang dingin alurnya yang berakhir begitu gelap. Pekat.

 

Ideologi

“Ini Semua, Bung, yang kukatakan argumentasi berbahaya. Racun Borjuasi! Tidak pernah kau membuat analisis secara konkret, jelas, dan mudah dimengerti. Jalan pikiranmu muter muter. Tidak dialektis, apalagi mampu kasih pengarahan yang tepat. Watak pekerja ilmu yang revolusioner dan progresif, sorry saja, tidak kau miliki!”.

Hampir setengah dari cerpen ini berisi tentang perdebatan ideologis para tahanan politik HSI (Himpunan Sarjana Indonesia) dan Lekra dalam sebuah penjara. Kiranya dengan membaca cerpen ini, pahamlah kita bagaimana situasi dan obrolan yang akan muncul diantara para tawanan politik jika mereka disesakkan dalam satu sel pengap. Seting ini muncul dalam kenangan Tono, seorang ex-tahanan politik, yang dipenjara atas aktivitas teater absurd nya dalam pergerakkan organisasi politik di Indonesia era 1960an. Seting ini memang sebuah seting yang umum muncul pada karya sastra Indonesia, para penulisnya, entah sedang menuai buah dari ruh jaman saat itu atau memang secara jujur merasa berkewajiban untuk menceritakan sisi gelap sejarah, terbagi kedalam dua kubu, yang gagal lalu menjadi cerita lalu, dan yang berhasil sehingga karyanya menjadi penanda jaman. Kubu kedua ini tidak banyak, tapi beberapa diantaranya Pramoedya, Ahmad Tohari, dan tentu saja Umar Kayam.

Cerpen ini, begitu pula cerpen berjudul ‘Bawuk’ dalam kumpulan cerpen yang sama, sangat kental dengan pemikiran komunis yang mendasari berbagai pergerakan sosial politik saat itu. Cerpen, berbeda dengan buku sejarah, tidak menghakimi, tapi mencoba memahami seluk beluk pemikiran individu dalam pijakan ideologisnya. Demikian pula dalam cerpen ini kita diajak memasuki pemikiran Tono, si tokoh, dari mulai sejarah pendidikannya yang mapan di Amerika, pandangan politiknya dan alasan dia bergelut dalam organisasi politik beraliran kiri. Kontestasi ideologi semakin mencuat ketika muncul tokoh Samsu yang senantiasa menjadi lawan seimbang bagi Tono (yang selalu menganggap Tono terlalu liberal), melalui percakapan kedua tokoh tersebut, sedikit banyak kita dapat merangkum berbagai pandangan pandangan tentang liberalisme, sosialisme dan terkhusus sosiopolitik tanah air pada era tersebut.

“Aku menghormatinya dengan mengajaknya adu argumentasi. Aku menghormatinya dengan menghantam pikiran pikirannya yang ternyata banyak keliru. Aku pikir dia akan merasa ditantang pikiran dan keyakinannya. Aku kira dia akan berbahagia sekali menghadapi mati begitu.”

Elegi

“Tiap saat, besok, atau mungkin malam ini malah, dia sudah akan digiring ke kebun karet untuk dihabisi disana.”

Rentetan ideologi terhenti ketika Tono terbangun dari tidurnya sekaligus dari kenangannya. Kita kemudian disuguhi percakapan panjang antara Tono dan Istrinya. Tentang cerita yang baru dirampungkan Tono – selepas dari penjara Tono adalah Tawanan Rumah yang kemudian menulis fiksi yang tidak berhubungan dengan politik sama sekali – yang secara mencengangkan mempunyai daya pikat tersendiri. Tentang buku. Tentang daster. Tentang makanan. Tentang kelahiran bayi yang mereka tunggu. Diselingi senyum dan tawa, dan juga adegan cinta.

Namun semua itu tidak memberikan kesan cerah adegan bahagia sepasang manusia. Kata katanya tetap terselubung pekat yang sewaktu-waktu bisa membuncah jadi gelap. Dan klimaks cerpen ini adalah suara ketukan di pintu yang menghentikan percakapan dan gelak tawa. Di situlah mengapa kita tahu ada yang salah. Sebuah percakapan manis penghabisan.

“Di depan Tono, di balik jendela depan jip, tidak ada kelabu tembok penjara yang dia begitu kenal. Pohon karet yang dia lihat menjelma pohon marple yang berderet di pedesaan Connecticut. Daunnya yang kuning, merah, coklat, ungu. Bajing melompot diantara daun yang berserakkan di bawah. Dia pun tahu musim gugur telah kembali di Connecticut.”

Bingkai

Tidak banyak cerpen yang berhasil memadukan kedua hal yang berlawanan di atas, namun dalam Cerpen Musim Gugur Kembali di Connecticut ini, Umar Kayam berhasil membangun bingkai yang menyatukan antara ideologi dan elegi. Sebuah bingkai yang sangat manusiawi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Aliyuna Pratisti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 24, 2012 by in Ulasan and tagged , .
%d bloggers like this: