Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Rashomon dan Persepsi Ke(tidak)benaran

“But is there anyone who’s really good? Maybe goodness is just make-believe” (Rashomon)

Rashomon adalah film garapan Akira Kurosawa (1950) yang diangkat dari kisah karya Akutagawa Ryūnosuke. Di awal cerita, digambarkan dua orang, Tukang Kayu dan Seorang Rahib, yang terjebak di sebuah kuil pada kondisi hujan petir, ditambah dengan orang ketiga yang datang kemudian. Hujanlah yang kemudian memaksa mereka untuk bertukar dialog yang berujung pada sebuah cerita si Tukang tentang kejadian pembunuhan yang disaksikannya. Namun cerita kemudian bergulir menjadi empat plot yang memiliki sisinya masing masing. Kesaksian dari empat orang, Tukang Kayu, Si Pembunuh, Si Korban dan Yang Terbunuh (yang berbicara melalui perantara), tidak memiliki kesamaan sama sekali antara satu versi dengan yang lain, dan hingga akhir film kita tidak diberikan kesempatan untuk mengetahui ‘kebenarannya’. Sebuah pertanyaan dibiarkan menggantung, jika terdapat banyak versi tentang fakta dan kebenaran, bagaimana kita dapat memutuskan mana yang “benar”?.

Kisah pembunuhan yang diutarakan dari empat sisi dalam Film Rashomon sebetulnya bukan sebuah hal yang penting. Dengan mengganti kisahnya – misalnya mengganti setting pembunuhan di tengah tengah hutan dengan kejadian perselingkuhan remaja – sama sekali tidak akan mengubah tema cerita, walaupun mungkin kita akan kehilangan selera untuk menontonnya. Melalui Rashomon, sebuah fenomena sosial yang kerap muncul terwakili, yaitu bahwa seringkali kebenaran tersaji dengan cara yang membingungkan. Dalam film ini kita dibuat kaget ketika menyadari bahwa kebenaran yang dipertahankan oleh keempat karakter, bukan semata-mata untuk melindungi diri mereka dari hukuman, namun lebih kepada upaya untuk meyakinkan diri sendiri dalam mempercayai sebuah kebenaran. Kebenaran yang dibangun oleh nalarnya sendiri. Sebuah kebenaran versi diri pribadi.

Film ini sukses mendapatkan piala Oscar sebagai film berbahasa asing terbaik pada tahun 1951 dan menghantarkan Kurosawa menjadi sutradara kenamaan Jepang. Namun, keberhasilan film ini tidak terletak pada sebuah piala berbentuk aneh bernama Oscar, tapi pada pengaruhnya dalam fenomena sosial, karena kemudian dunia mengenal apa yang disebut dengan “Rashomon Effect”. Rashomon Effect adalah sebuah dampak yang muncul dari persepsi subjektif yang berbeda dari beberapa orang tentang sebuah kejadian, yang satu sama lain memiliki bobot “kebenaran” yang sama. Lalu mungkinkah sebuah kebenaran dapat muncul dalam bentuk yang beragam?.

 

 

 

 

 

 

 

(Aliyuna Pratisti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 10, 2012 by in Ulasan and tagged , , .
%d bloggers like this: