Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Menikmati Air Kata kata dalam Dua Dimensi

Sebuah buku puisi menarik berjudul ‘Air Kata Kata’ diterbitkan Galang Press pada pertangahan 2003. Sembilan tahun telah lampau memang sampai pada suatu sore saya temukan buku tersebut di Perpustakaan Publik milik teman saya. Jatuh cinta adalah kata yang tepat, pada judul yang dipilih untuk antologi tersebut dan sampul pekat yang bergambar anjing yang melolong pada bulan dengan pijakan kepala manusia yang didalamnya berhimpitan kata kata, lukisan karya Agus Suwage.

Ya, buku ini memang bukan antologi puisi biasa, seperti halnya penulisnya, yang memang bukan penulis biasa – Sindhunata, seorang wartawan dan intelektual yang karyanya jauh dari biasa. Ada tiga hal menarik yang menjadikan antologi ‘Air Kata Kata’ luar biasa. Pertama, Sindhunata itu sendiri yang memang tidak biasa. Kedua, tidak biasa biasanya sebuah antologi puisi di buat sedemikian acak acakan dalam segi tema yang seakan seenak’e udele dewek, mulai dari yang kotor sampai yang suci, yang doa sampai sumpah serapah, tentang tuhan sampai tentang manusia. Ketiga, diluar kebiasaan, dalam antologi ini Sindhunata gak puas sama bahasa Indonesia sehingga dalam beberapa puisi ia menggunakan bahasa Ibunya, bahasa Jawa, yang dianggapnya lebih pas dalam menuliskan kekayaan puisinya. Puisi puisi macam ini memakan korban, contohnya saya yang tidak paham betul dengan bahasa tersebut, yang cenderung akan menikmatinya tidak sebagai puisi, tapi seperti mantra yang memiliki tempat tinggi dalam khasanah lisan, walau isinya bisa saja cerita tentang kucing yang kecemplung got.

Oh ya, ketiga hal tadi sebetulnya belum ke titik inti keluarbiasaan dari antologi ini yang saya sebut keindahan dua dimensi, karena dalam setiap puisinya, Sindhunata mengundang para pelukis untuk membuat sebuah sketsa atau lukisan berdasarkan rasa dari puisi tersebut. Lukisan itu kemudian dapat dikunyah berbarengan dengan puisinya, ataupun dinikmati secara terpisah. Disitulah enaknya antologi ini, kenyang: mata dan jiwa.

Beberapa pelukis yang mengisi antologi Air Kata Kata antara lain Agus Suwage, Bambang Toko, Djokopekik, Nasirun, Eko Nugroho, dan banyak pelukis lainnya. Untuk sedikit membuat anda iri karena belum membaca buku ini, maka saya akan cantumkan dua buah puisi beserta lukisan yang hidup bersama puisi tersebut. Selamat menikmati.

Cintamu Sepahit Topi Miring.

Senja di desa Baron
matahari tenggelam dalam kemaron
Lembu betina lari melompat-lompat
dikejar-kejar anaknya yang kecil meloncat
Senja lucu dengan kasih sayang ibu dan anak
langit senja mengandung sapi beranak
terpesona Ranto melihat, ia tertawa bergelak
dan berubah jadi Ranto Gudel, sang pelawak

Jadi Marmoyo di panggung ketoprak
Ranto Gudel meminum arak
Terendam dalam ciu
birahinya berubah jadi biru
Diajaknya Nyai Dasima bercinta
dengan cinta sepahit Topi Miring
Layar dibuka, turun hujan gembukan
Dewi Mlenukgembuk datang
membawa seguling roti cakwe
Marmoyo rebah terguling
tidur di pangkuan Nyai Dasima
yang sekeras ciu cangkol buah dadanya

Ke mana Ranto Gudel pergi
panggung selalu harum dengan arak wangi
Di Sriwedari jadi petruk
Garengnya diajak mabuk
Bagongnya menggeloyor
Semarnya berjualan ciu cangkol
Dengan terang lampu semprong
Pak Mloyo memukul kenong
nong ji, nong ro
giginya ompong menggerong:
Ranto Gudel Mendehem
Nyungsep di Bengawan Solo
di sana ia lalu menyanti:
Itu perahu, riwayatmu dulu
kini sungaimu mengalirkan arak wangi
dengan harumnya aku mandi

Thuyul gundhul ke sana sini mengempit gendul
gendruwo thela-thelo, tampak loyo
jrangkong jalannya miring-miring dhoyong
dhemit setan wedhon
anak-anak Bathari Durga dari bukit Krendhawahana
semuanya mabuk menari-nari:
Sengkuni leda-lede
mimpin baris ngarep dhewe
eh barisane menggok
Sengkuni kok malah ndheprok

Belum selesai menabuh kenong
Nong ji, nong ro
Pak Mloyo pulang geloyoran
Abu-abu wajahnya terendam ciu
Dari jauh Ranto Gudel melihatnya
duduk berjongkok di Bengawan Solo:
Air mengalir sampai jauh
membawa botol-botol cangkol
yang mengapung-apung seperti lampion
nyalanya bundar, seperti kenong
Pak Mloyo terguling ke Bengawan Solo
dengan irama nong ji nong ro
Ranto Gudel tertawa:
Itu perahu botol cangkol
mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut berombak ciu

Malam berpayung hitam
hitam dibuka dengan bulan
Ranto Gudel minum arak bekonang
mengantar gadis pulang, berdandan bidan
roknya putih, bajunya putih
serba putih lebih daripada peri
Tiba di pinggir kali
Ranto Gudel diajak belok ke kiri
Rumahnya temaram
kursinya sedingin batu bulan
Birahinya menyentuh dingin
tergeletak ia di atas kijing
Dhemit elek asu tenan
mengumpat Ranto Gudel geram
Ia marah terendam arak bekonang:
Asu, hampir saja aku bercinta dengan setan

Cinta manusia seperti Umbul Penggung
dulu bening sekarang keruh
dulu kerajaan sekarang desa
Ranto Gudel dengan empat istrinya
tak pernah abadi cintanya

Memang enak jadi wedhus daripada manusia
bila mati, manusia dikubur di gundukan tanah
kepalanya dikencingi wedhus yang merumput
Nasib manusia hanyalah sengsara sampai akhirnya
mengapa kita mesti bersusah?
Hiduplah seperti Joko Lelur
siangnya melamun minum limun
malamnya bangun minum berminum
lapen ciu cangkol arak bekonang

Sekarang di sudut-sudut rumah
botol-botol cangkol dipasangnya
untuk menolak dan menakut-nakuti tikus
Di hari tuanya Mbah Ranto mengenang
bayangkan, ciu cangkol hanyalah spiritus
yang bisa mengusir tikus
padahal dulu aku minum sampai lampus:
Aku memang benar-benar wedhus!

Hueek.
Hueeeeek.
Hueeeeeeeek.
Wis wis……

(Sindhunata, 2002)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perupa: Agus Suwage

 

Rumah Pohon

Sekarang kotir sudah senang

Selesai sudah pengembaraan

Ia pulang kandang

Tahu tahu rumahnya sudah tenang

Bersayapkan burung sriti

Harum dengan minyak serimpi

Kotir pulang ke rumah pohon

Pule hijau daunnya segar

Paro petang bulan purnama

Teman temannya datang

Mandi di Sendang Bagong

Meraba raba paha tak kelihatan

Paha paha putih

Anak anak Nyai Gadhung Mlati

Kotir naik sapi Gumarang

Melihat seribu bintang

Menelan pendeitaannya

Istana langit terbuka

Merintik turun gerimis kemenyan

Jatuh di mutiara mutiara doa

Di atap rumah pohonnya

Harum dengan wangi Bidadari

Teman teman Kotir telanjang di sendang

Mereka melihat senang

Kotir sudah pulang kandang

Dan rumahnya sudah tenang.

Di malam seribu bulan

Katak duka katak harapan

Menabuh gamelan di Jalakan.

Kotir mendengar senang

Di rumah pohon dukanya menghilang

Mengerjap dalam harapan

Tahu tahu rumahnya sudah tenang.

Rumah pohon di tepi kali Boyong

Batunya megah berantai emas

Kalung lahar Eyang Merapi.

Tiap hari Kotir mengais rejeki

Pasir dihitungnya bagai butiran nasi.

Dari Pemancingan Seh  Bela Belu mampir

Diberinya Kotir ilmu dzikir pasir

Kali Boyong terus mengalir

Nasi dan pasir tertanak dalam dzikir kotir.

Kotir memandang pasir dengan mata nabi khidir.

Samodra raya dengan segala isinya

Ternyata terkandung dalam sebutir pasir.

Sebutir pasir adalah nasi

Dalam sebutir pasir terkandung samodra

Dalam sebutir nasi terkandung hidupnya

Kini dengan dzikir pasir kotir mengerti

Apa arti: perahu yang memuat samodra raya.

Kotir menyesal, kenapa demikian lama

Ia mesti mengembara mencari hidupnya

Jika kekayaan hidupnya ada dan berada

Dalam pasir yang tiap hari diinjak injaknya?

Kotir tidak lagi mencari hidupnya

Ia sudah pulang ke rumah pohon

Dan mendapati rumahnya sudah tenang.

(Sindhunata, 2003)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perupa: Arahmaiani

(Aliyuna Pratisti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 10, 2012 by in puisi, Ulasan and tagged , .
%d bloggers like this: