Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Sastrawan Indonesia dalam Dokumentasi Yayasan Lontar

Sebuah pertanyaan yang lazim untuk keluar dari benak penikmat sastra Indonesia yang ditujukan entah pada dosen, sesama pembaca atau pada cicak di dinding adalah: Siapa saja yang menjadi tonggak perkembangan sastra Indonesia?

Dalam perjalanannya, sejumlah gagasan telah dituangkan para pengamat dan kritikus sastra Indonesia dalam upayanya menjabarkan perkembangan sastra Indonesia beserta tokoh-tokohnya. Proses perjalanan sastra Indonesia mengalami beberapa periodesasi yang kemudian di simbolkan dengan kata “angkatan”. Rupa rupanya kata ‘angkatan’ ini dipilih untuk menggambarkan kesatuan bangun sastra dari periode tertentu dimana ia tumbuh berkembang.

Sastra Indonesia semakin berkembang pesat pada tahun 1920an dengan munculnya Angkatan Balai Pustaka dengan kanon-kanon (1) seperti Salah Asuhan dan Siti Nurbaya. Kanon sastra kemudian diikuti beberapa angkatan sesudahnya yaitu Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 1945, Angkatan 1960, Angkatan 1965, Angkatan 1980, Angkatan Reformasi dan Angkatan 2000 yang satu sama lain merupakan anak dari permasalahan sosial dan pergolakan politik jamannya masing-masing (2).

Di sisi lain, kanonisasi sastra yang muncul dalam perkembangan sastra Indonesia dikatakan sebagai bentuk politik sastra yang sangat didominasi karya karya dari kelompok tententu. Efek dari politik kanonisasi sastra Balai Pustaka ini bisa kita lihat pada anggapan umum sampai saat ini dalam dunia sastra Indonesia bahwa “Angkatan Balai Pustaka” merupakan “angkatan pertama” dalam sejarah sastra Indonesia dan “Fiksi Balai Pustaka” pun (seperti Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Layar Terkembang) dianggap karya-karya kanon klasik sastra Indonesia sementara karya-karya “bacaan liar” nyaris tak dikenal sama sekali sampai beberapa tahun terakhir ini (3)

Namun, mengesampingkan perdebatan yang hingga saat ini masih berlangsung, ada sebuah dokumentasi menarik karya Yayasan Lontar (4) yang dapat dijadikan sebuah referensi untuk menjawab pertanyaan pada awal tulisan: Siapa saja yang menjadi tonggak perkembangan sastra Indonesia?. Dokumentasi ini berupa biografi dari 24 Sastrawan Indonesia yang (masuk  maupun tidak masuk sebagai “kanon” sastra Indonesia) telah menghasilkan karya yang penting bagi sastra Indonesia. Dengan durasi per film sekitar 30 menit, Yayasan Lontar memberikan khasanah sastra Indonesia dengan menyajikan riwayat hidup, kehidupan sosial sang pengarang dan hasil karyanya. 24 Sastrawan Indonesia yang biografinya terangkum oleh Yayasan Lontar adalah sebagai berikut:

SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA dengan Judul ‘Dan Hidup Berjalan Terus’

SELASIH dengan Judul ‘Nama Saya Selasih’

AA NAVIS dengan Judul ‘Satiris dan Suara Kritis dari Daerah’

RAMADHAN KH dengan Judul ‘Dari Mata Ramadhan KH’

SITOR SITUMORANG dengan Judul ‘Rindu Kelana’

PRAMOEDYA ANANTA TOER dengan Judul ‘Mendengar si Bisu Bernyanyi’

RENDRA dengan Judul ‘Si Burung Merak’

NH DINI dengan Judul ‘Sosok Pengarang Wanita dan Dunianya’

UMAR KAYAM dengan Judul ‘Refleksi Kehidupan’

TAUFIQ ISMAIL dengan Judul ‘Tirani dan Puisi’

DANARTO dengan Judul ‘Sastra Sufisme Danarto’

GOENAWAN MOHAMAD dengan Judul ‘Potret Penyair Si Malin Kundang’

HB JASSIN dengan Judul ‘Yang Duduk di Kursi Imajinasi’

TOETI HERATY dengan Judul ‘Sosok Penyair’

DARMANTO JATMAN dengan Judul ‘Penyair Dalam Lintasan Budaya’

PUTU OKA SUKANTA dengan Judul ‘Merajut Harkat’

SOEMAN HS dengan Judul ‘Soeman Hs’

AGAM WISPI dengan Judul ‘Pulang’

ACHDIAT K.MIHARDJA dengan Judul ‘Suara dari Jaman Pergerakan’

AHMAD TOHARI dengan Judul ‘Kesaksian Tanpa Batas’

GERSON POYK dengan Judul ‘Nostagia Nusa Tenggara’

HANNA RAMBE dengan Judul ‘Hanna Rambe’

KUNTOWIJOYO dengan Judul ‘Dua Dunia Kuntowijoyo’

SAPARDI DJOKO DAMONO dengan Judul ‘Aku Ingin’

Walaupun angka 24 adalah jumlah yang sangat sedikit dari luasnya rentangan sastra Indonesia, namun dengan mengkaji ke 24 sastrawan di atas, dapatlah sekiranya menjawab (untuk sementara) pertanyaan Siapa saja yang menjadi tonggak perkembangan sastra Indonesia?, yang kemudian akan menggelitik pertanyaan pertanyaan berikutnya: Apa sumbangsih mereka terhadap Sastra Indonesia?, Apakah karya mereka mempengaruhi penulis penulis sesudahnya?, dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Dokumentasi Yayasan Lontar tidak membeberkan secara gamblang dua pertanyaan iseng di atas, namun adalah sebuah keasyikan tersendiri untuk mencari jawabannya dalam rangka memahami seluk beluk sastra Indonesia dari masa ke masa.

(Aliyuna Pratisti)

Keterangan dan Sumber:

(1)    Kanon Sastra dalam konteks kritikus sastra di adalah seleksi atas karya-karya yang dianggap sebagai karya “klasik” yang mewakili jaman tertentu.

(2)    E Ulrich Kratz (ed.), Sumber Terpilih: Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, Jakarta 2000

(3)    Saut Situmorang, Politik Sastra, Yogyakarta 2009

(4)   Yayasan Lontar sendiri merupakan Yayasan nirlaba yang bertujuan untuk Membangkitkan pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia dan mengabadikan dokumentasi sastra Indonesia bagi generasi mendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 8, 2012 by in Artikel, Ulasan and tagged , , .
%d bloggers like this: