Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Cerita tentang Cerita Rakyat, Senggulat Mbacang Erbahan Sirang

Oleh: Pulumun P. Ginting dan Fitra Ananta Sujawoto

“Baling-Baling Bambuuuu……..”

(Doraemon)

Penggalan kata yang begitu magis dari film kartun doraemon yang selama sekian tahun mengisi hari minggu pagi di layar kaca kita. Film kartun dari Jepang yang mengimajikan tokoh kucing dari masa depan dengan berbagai alat-alat canggihnya. Cerita dalam film tersebut menjadi kenyataan, Jepang telah muncul sebagai negara teknologi tinggi saat ini. Suatu cerita memiliki kekuatan untuk membangun mimpi sebuah bangsa. Indonesia sebagai sebuah bangsa juga kaya khazanah cerita rakyat. Namun, cerita rakyat yang lahir dari tradisi lisan kita seperti tenggelam dalam gelombang gaya penceritaan baru seperti sinetron dan film. Salah satunya, cerita rakyat senggulat mbacang erbahan sirang dari masyarakat Karo yang memiliki nilai-nilai moral, harapan, dan bahkan mimpi suatu kebudayaan untuk menunjukkan peradabannya. Ketika berbagai bangsa di dunia mulai untuk mengadopsi cerita-cerita rakyat mereka ke dalam bentuk multimedia baru, kita seharusnya dapat percaya bahwa sebuah budaya mewujud dari suatu cerita.

Sejatinya, cerita rakyat adalah produk imajinasi manusia yang tentu saja tidak asal dibuat, dirinya disampaikan melalui bahasa yang mengandung pesan-pesan. Serangkaian mitos dikenali maknanya melalui penceritaannya. Penelusuran atas makna masih terurai hingga kini, banyak yang menggali apa-apa yang ada dibalik suatu cerita. Dalam cerita rakyat, khayalan manusia memperoleh kebebasannya yang mutlak, karena disitu tidak ada larangan bagi manusia untuk menciptakan mitos apa saja. Di situ bisa ditemukan hal-hal yang tak masuk akal dan tidak mungkin kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kita biasa mendengar cerita rakyat atau dongeng kancil yang berhasil menipu buaya, pawang ternalem, kuda si tajur, perlanja sira, dan sebagainya yang tidak pernah kita temukan dalam kenyataan.

adi lit sada tersembelah kita nindu, njanah adi lit dua nonggal sada kita. Bage kal nindu ndube impal”

Sepenggal kalimat pada cerita rakyat Senggulat mbacang erbahan sirang dari masyarakat Karo yang menyampaikan berbagai pesan-pesan yang abstrak. Setiap manusia mempunyai nalar yang berbeda-beda untuk menemukan makna dan pesan dari sebuah cerita rakyat. Kesetiaan dan janji yang tersurat dalam cerita ini ditutur secara turun temurun. Sayangnya, tuturan tentang Senggulat mbacang erbahan sirang belum lagi terdengar hari ini. Derasnya arus globalisasi yang diantaranya diusung oleh sinetron dan film menggiring cerita ke dalam ruang-ruang gulita media. Keberadaannya tidak lagi menjadi bagian dari berita. Lalu, dimana kita ketika penutur cerita rakyat sudah tidak lagi membudaya?

Kisah Senggulat mbacang erbahan sirang mencerita tentang romantisme cinta seorang putri raja dari Kerajaan Kepultakeen dan seorang pemuda yatim. Sang putri bernama Rudang Bulan dan sang kekasih bernama Tare Iluh. Cerita senggulat mbacang erbahan sirang menyuratkan tentang pentingnya sebuah janji yang telah terucap. Ucapan dan laku manusia menanda hati dan pikirnya.

Adi lit sada tersembelah kita nindu, njanah adi lit dua nonggal sada kita. Bage kal nindu ndube impal.”

(jikalau ada satu, belahlah, berikan aku setengah dan jikalau dua berikan aku satu, itulah ucapanmu sebelum kita pergi).

Itulah salah satu dialog yang dilantunkan dengan irama katoneng-toneng ketika terjadi pertandingan catur pada cerita ini. Hak waris, regenerasi, sistem perjodohan, dan pelbagai rumusan adat menjadi bagian dari sebuah cerita rakyat. Kehidupan feodalistik bisa saja menjadi bahan kritis para modernis. Tetapi tanpa tradisi, modernisasi hanya menjadikan kaumnya membendakan benda. Apa diri kita hanya diukur sejauh profesi ketika kita sudah melupa atas apa yang adat?

Senggulat mbacang erbahan sirang sarat atas nuansa adat ditengah masyarakat yang telah menjadi serba instan. Masyarakat menjadi sekumpulan individu-individu yang tidak lagi berpikir tentang hidup yang berproses. Kondisi ini juga menjadi gambaran rapuhnya tata norma dalam masyarakat itu sendiri. Norma-norma atas apa yang benar dan apa yang salah, apa yang boleh dan apa yang dilarang dikondisikan oleh industri media. Keberadaan industri media tidak selalu bermasalah selama memenuhi etika yang ada dalam suatu kelompok masyarakat. Cerita dan berita yang ada dalam media memposisikan masyarakat tidak dalam kelompok-kelompok kecil, dirinya membentuk masyarakat besar dalam satu persepsinya mengenai norma-norma universal. Cerita tangis dalam sinetron, humor sarkastik dalam opera, dan hororisme dalam film merasuk ke dalam ruang-ruang privat masyarakat yang berlainan norma. Dahulu kita mengimaji masyarakat diluar kelompok kita seperti apa dan bagaimana rupa, tapi kini semuanya dipersepsikan sama oleh media. Jadi, sejauh mana kita telah berubah setelah lupa pada cerita rakyat kita? Adakah yang salah ketika kita menjadi sama dalam segala sendi norma?

Kisah kasih dalam sinetron tersebut menggiring kita untuk melihat suatu jalinan cerita secara gamblang tanpa bunga-bunga bahasa, meskipun seringkali berbelit disana-sini dengan berbagai prahara. Di satu sisi, sinetron bisa saja bermakna dan memiliki pesan moral, namun apakah sesuai dengan gaya hidup masyarakat kita? Suguhan gaya hidup modern dengan berbagai masalah yang membelit sebuah keluarga, hingga ada tokoh jahat yang seolah dibuat tanpa keinginan untuk bertobat. Ajakan untuk bergaya hidup sederhana meskipun hidup di suatu kota yang begitu sarat akan hura-hura. Gambaran atas peliknya sistem hukum yang ditambah dengan kisah yang kita tidak tahu akan berujung bagaimana. Setiap hari kita telah didorong untuk memikirkan hidup seseorang yang bahkan kita tidak tahu apakah ada yang seperti itu di dunia nyata?

Sinetron sama dengan berbagai bentuk penceritaan yang lain, dirinya hadir dengan seperangkat gaya hidup. Namun, sinetron membuat kita berada dalam keterjebakkan untuk meletakkannya dalam keseharian hidup kita seolah cerita tersebut dapat hadir dalam hidup kita. Sehingga kita tidak lagi hirau dengan tiadanya pesan moral, pikiran kita hanya disesakki oleh ketakutan seandainya cerita tersebut menimpa kehidupan kita. Inilah yang disebut sebagai simulakra dalam alur pikir Jean Baudillard, kondisi ketika yang nyata telah menjadi bagian dari cerita, dan cerita telah menjadi bagian dari yang nyata. Kita tidak lagi rindu akan etika, karena etika itu telah dihadirkan oleh media yang membuat hidup kita lebih sinetron dari yang sinetron. Kita menerima tangis dalam layar kaca, seperti hujan gerimis di pagi buta. Keduanya hanya disekat ketidaktahuan oleh pertanyaan apakah itu ada?

Di sisi yang lain, film telah menjadi konsumsi yang murah dan mudah saat ini di Indonesia, baik melalui bioskop maupun kepingan-kepingan cd dan dvd. Produktivitas dan kreativitas kalangan perfilman di Indonesia kembali meningkat setelah surut di tahun-tahun yang lalu. Sayangnya terjadi dominasi dari film-film horor yang dikembangkan dari cerita-cerita rakyat masyarakat Indonesia, seperti kuntilanak, pocong, genderuwo, suster ngesot, dan berbagai jenis setan yang lainnya. Padahal, menurut Albert Moran dalam bukunya Film Policy: International, National and Regional Perspective, film memiliki dua dimensi; pertama, dimensi material yang berorientasi pada perdagangan; kedua, dimensi kultural yang merupakan representasi dari kebudayaan suatu masyarakat, serta memiliki citra tertentu yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Sehingga, ketika film-film di ruang-ruang privat dan publik kita didominasi oleh film-film horor, maka kita telah menjadi masyarakat yang horor.

Film-film horor yang menjamur di Indonesia saat ini seringkali terinspirasi oleh cerita-cerita rakyat tradisional maupun yang urban. Hal tersebut dapat dilihat dari judul-judul film horor Indonesia seperti Hantu Ambulans, Tali Pocong Perawan, Jelangkung, dan Terowongan Casablanca. Diadopsinya cerita rakyat ke dalam film sebenarnya merupakan kecenderungan yang menarik bagi upaya pelestarian tradisi lisan. Namun, ketika yang dikembangkan justru cerita-cerita rakyat yang memiliki unsur-unsur horor dan magis, maka nilai-nilai, harapan, serta mimpi yang berkembang dalam cerita hanya berakhir pada rasa takut. Mungkinkah kita sebagai bangsa menjadi besar ketika bermimpi tentang ketakutan?

Pada akhirnya, cerita rakyat seharusnya tidak hanya menjadi sekadar cerita. Nilai-nilai, norma-norma, harapan-harapan, dan mimpi-mimpi dari sebuah cerita rakyat harus menjadi dorongan untuk mengada suatu bangsa. Eksistensi bukan perkara jumlah produksi, eksistensi lebih pada esensi dari sebuah kreasi. Cerita tentang cerita rakyat bukanlah sekadar ajakan untuk mengenal tradisi, tetapi renungan untuk menelusuri apa yang lebih nyata dari yang kita konsumsi. Sinetron dan film bisa saja menjadi hiburan hari-hari, tetapi lebih dari segalanya harapan dan mimpi dari sebuah cerita rakyat harus tertanam di segala laku dan perilaku dari negeri ini.

* Penulis juga telah menggubah cerita Senggulat Mbacang Erbahan Sirang ini kedalam bentuk komposisi Musik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 8, 2012 by in Artikel and tagged , , .
%d bloggers like this: