Perpus Semesta

Perpustakaan & Kolektif Buku

Dan Dia Bukanlah Seorang Badut Pemabuk yang Berlagak Penyair! (WHEN YOU’RE STRANGE-2009)

Oleh: Boy Nugroho

You can’t burnt out if you’re not on fire

Jangan bilang ini sebuah film yang puitis. Bukan. Itu terlalu berlebihan. Ini film dokumenter biasa yang alih-alih menuturkan karir sebuah band namun malah membuat sosok enigmatik sang vokalis menjadi sorotan utama.

Salah satu daya tarik (yang tidak menarik) dari film ini ialah narasi yang dituturkan secara khidmat oleh Johnny Depp. Nada bicaranya yang datar sok serius seolah sedang membacakan sebuah puisi panjang. Lebih penting lagi, film ini (konon) sangat anti The Doors versi Oliver Stone yang dibuat tahun 1991. Mengapa? Karena sutradara ini dianggap terlalu mendramatisir beberapa fakta dan sepihak dalam menampilkan karakter para personel The Doors. Akibatnya dalam garapan Stone, Jim Morrison menjadi mitos yang selalu benar, sedangkan yang lain sekadar figuran. Robby Krieger (gitaris) bahkan pernah mengatakan bahwa dia kagum dengan penampilan Val Kilmer di film itu yang sayangnya dirusak oleh buruknya penulisan naskah. Tapi inilah yang menarik, When You’re Strange yang berusaha ditampilkan seobjektif mungkin oleh Tom DiCillo ternyata malah makin menguatkan Morrison sebagai sosok kharismatik yang sulit untuk dibantah.

 The Doors adalah legenda. Namun barangkali tanpa kehadiran Jim Morrison, catatan sejarah band ini akan berbeda. Karir bermusik mereka yang singkat tetap memikat generasi saat ini. Tidak percaya? Silakan cek sendiri. Mungkin saja ada beberapa anak muda akil balig yang memasang posterJesus Christ Pose –nya Jim Morrison di dinding-dinding kamar mereka, atau contoh yang lebih mudah kaos-kaos Jim dengan berbagai pose dan pemujaan terhadap aksi semi-mabuk-meracau-mesum sang vokalis di panggung.

Jim seorang yang tidak yakin dengan kemampuannya bernyanyi. Awalnya, dia menempatkan Elvis Presley sebagai idola yang perlahan digeser oleh Frak Sinatra. Kemampuannya menebar kata-kata di atas panggung sekaligus menggiring ke peristiwa saat dia ditangkap oleh polisi dengan tuduhan yang tak pernah terbukti jelas. Dia dituduh melakukan masturbasi dan simulasi seks oral di atas panggung dengan barang bukti sebuah foto yang agak absurd; saat dia ‘mencium’ gitar Robby.

Lupakan pertanyaan tadi dan simak saja film ini. Anda akan dimanjakan dengan banyak cuplikan dari beberapa konser The Doors yang cukup lugas dalam menampilkan metamorfosis sang Lizard King. Dari seorang pemuda pemalu yang bernyanyi sambil membelakangi penonton hingga aksi urakan yang sering membingungkan rekan-rekannya di panggung. Jelas sudah, mereka hadir bukan untuk menonton konser The Doors, namun demi menyaksikan sebuah pertunjukan. Dari panggung ke panggung Jim Morrison menjelma sebagai seorang penyair. Seorang penyair panggung yang menyadari bahwa musik dan lirik harusnya saling berkelindan membius para penonton. Seolah-olah dia terasing dalam keasyikannya di atas panggung. Dalam keadaan mabuk di panggung, ia terus mengucurkan kata-katanya dengan kasar. Ia bahkan lupa dengan lirik-lirik lagunya dan tersesat di antara bait-bait nada. Tapi itulah Jim, dia hanyut, penonton hanyut, sementara rekan-rekannya mencoba untuk tak tenggelam dalam keterasingan Jim di panggung. Ada hal yang diketahui dan tidak, dan di antara keduanya adalah mereka; The Doors.

Bagi fans fanatik The Doors, film ini mungkin tidak begitu menampilkan informasi yang baru. Namun cukup bagus untuk dinikmati. Proses kreatif Jim yang bermula dari psikedelik dan berakhir pada figur pemabuk yang berbahaya disajikan dengan lancar. Seiring dengan penggalan terakhir film, kematiannya pun dituturkan dengan ‘biasa’. Seolah dia seorang anggota band rock yang tiba-tiba terkenal dan mati. Akhirnya, film ini membuktikan bahwa The Doors adalah ketika Jim masih bernyawa dalam puisi dan keterasingan bersama Robb, Ray dan John. Jadi, Morrison lebih melegenda dari The Doors?

Bagi sebagian orang, Jim adalah penyair, jiwanya terjepit antara surga-neraka. Bagi yang lain, dia hanyalah seorang bintang rock yang jatuh dan terbakar. Kau tak mungkin bisa terbakar jika tidak menyala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 5, 2012 by in Ulasan and tagged , , , , .
%d bloggers like this: